Bangunan Rumah pada Relief Candi Borobudur

       Salah satu benda tinggalan masa lampau yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui kehidupan masa lampau adalah relief candi. Relief candi dapat menceritakan berbagai hal tentang kehidupan, yang dapat dikaji keberlanjutannya pada masa kini. Salah satu komponen yang terdapat pada relief Candi Borobudur adalah penggambaran bangunan. Relief dengan gambar bangunan rumah cukup banyak ditemukan dan gambar-gambar tersebut dapat memberikan indikasi tentang bentuk-bentuk rumah pada masa pembangunan candi tersebut serta  kehidupan masyarakat di masa lalu. Relief dengan gambar bangunan rumah  dapat ditemui di kaki candi pada panil-panil relief Karmawibangga, serta pada dinding galeri-galeri candi.

       Jenis bangunan yang digambarkan pada panil-panil relief candi  adalah bangunan dengan material batu dan bangunan dengan material kayu. Bangunan dengan material batu terutama adalah bangunan-bangunan pemujaan, sedangkan bangunan dengan material kayu adalah bangunan tempat tinggal atau rumah. Penelitian ini memberi perhatian pada relief-relief yang menggambarkan bangunan-bangunan kayu, karena penelitian ini ingin mengetahui kemenerusan bentuk-bentuk bangunan dari dulu sampai saat ini, dan bangunan kayu khususnya rumah kayu merupakan jenis bangunan yang masih banyak ditemukan di kawasan perdesaan sampai saat ini.

       Bentuk-bentuk rumah kayu pada relief Candi Borobudur menggambarkan bentuk-bentuk bangunan dengan arsitektur tropis lembab, seperti bentuk atap miring, dinding terbuat dari kayu atau bambu, ruang-ruang terbuka, serta adanya kolong di bawah lantai. Elemen-elemen rumah ini ternyata sama dengan elemen-elemen rumah pada masa kini, khususnya rumah-rumah tradisional Jawa di perdesaan (Darwanto, 2001). Secara lebih detil menurut Darwanto, elemen-elemen arsitektur rumah pada relief Candi Borobudur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Atap rumah berbentuk atap kampung, atap limasan dan atap tajuk.
  2. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu atau papan kayu. Berdasarkan bentuk dinding, bangunan dikelompokkan menjadi bangunan terbuka, setengah terbuka, tertutup, dan campuran (bangunan terbuka dan tertutup).
  3. Kolom atau tiang rumah terbuatdari kayu
  4. Kaki bangunan meliputi kolong, umpak dan batur
  5. Lantai bangunan, terdiri dari bangunan berlantai satu dan dua. Bentuk lantai bale-bale yang terbuat dari kayu.

       Pada relief Candi Borobudur, bangunan rumah yang menggunakan bentuk atap kampung berjumlah 27 buah, atap limasan 48 buah, serta atap tajuk 2 buah (Darwanto, 2001). Ketiga bentuk atap tersebut pada bangunan tradisional Jawa diperlihatkan pada Gambar 1.

       Ketiga bentuk atap miring tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan iklim tropis yang ada. Hujan deras yang jatuh di atap akan diteruskan secara perlahan oleh atap ke bawah. Begitu juga bentuk atap miring akan menerima dan mengarahkan angin yang mengenainya dengan baik.

Gambar1. Bentuk dasar bangunan tradisional Jawa dengan atap kampung, limasan, dan tajuk Sumber: Hamzuri, 1983

Gambar1. Bentuk dasar bangunan tradisional Jawa dengan
atap kampung, limasan, dan tajuk
Sumber: Hamzuri, 1983

            Pada rumah dengan arsitektur tradisional Jawa, kayu atau bambu menjadi bahan utama untuk kolom maupun dinding. Kolom-kolom kayu dengan jumlah tertentu (4, 6, 8, dan seterusnya) merupakan tiang penyangga utama bangunan, sedangkan dinding dipakai sebagai sekat atau pembatas ruang. Bentuk rumah tanpa dinding (terbuka), dengan dinding tertutup dari bambu atau papan (Jw: gedheg), dengan dinding separoh atau kombinasi bambu dan papan (Jw: kotangan), dan dinding papan (Jw: gebyog), merupakan bentuk-bentuk rumah Jawa berarsitektur tropis. Dinding semacam itu dapat berfungsi untuk melancarkan aliran udara dan membuat udara di dalam bangunan menjadi sejuk (Sugijanto, 1991). Lantai pada rumah tradisional Jawa umumnya  hanya satu lantai dengan bentuk lantai tanah atau lantai batur (dengan perkerasan). Pada saat ini sudah tidak dijumpai lagi rumah tradisional Jawa dengan bentuk panggung atau berkolong. Kolom-kolom bangunan disangga umpak kayu yang diletakkan di atas tanah dan lantai berada di atas tanah tersebut, baik berupa lantai tanah maupun lantai batur (Sugijanto, 2001).

            Kemenerusan arsitektur bangunan rumah konstruksi kayu dapat diketahui melalui adanya kesamaan antara gambar relief bangunan rumah pada Candi Borobudur dan bangunan rumah tradisional Jawa pada masa sekarang. Kemenerusan tersebut terlihat pada bentuk atap, kolom, dinding, lantai, dan penggunaan umpak. Gambar-gambar di bawah (Gambar 2) menunjukkan persamaan antara gambar bangunan pada panil-panil relief di Candi Borobudur dan bentuk rumah tradisional Jawa yang masih ada di kawasan Borobudur.

Gambar2. Persamaan antara gambar bangunan pada relief Candi Borobudur dan bentuk rumah tradisional Jawa saat ini Sumber: Darwanto, 2001 dan Krom, 1927

Gambar2. Persamaan antara gambar bangunan pada relief Candi Borobudur
dan bentuk rumah tradisional Jawa saat ini
Sumber: Darwanto, 2001 dan Krom, 1927

 


Kontributor: Dwita Hadi Rahmi

 

Please follow and like us:
0

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.