Semiotika pada Atribut Arsitektur

(Sumber: Pinterest.com)

Apa itu gelas? Kenapa dinamakan gelas? Bisakah disebut gelas jika bentuknya diubah?

 

Untuk sebagian orang menjawab pertanyaan yang sepele ini hanya membuang waktu, namun dibalik semua ini kita secara tidak sadar selama kita hidup kita menjawab pertanyaan filsafati yang ‘sepele’ tersebut hanya saja ranahnya berbeda.

Hanya karena kita tidak berkecimpung di ranah sastra atapun filsafat bukan berarti kita tidak pernah menjawab pertanyaan sepele filsafati menggunakan bahasa yang ‘berat’. Secara turun-temurun kita mengetahui bahwa benda yang disebut gelas adalah benda yang dapat menampung air untuk diminum oleh manusia. Apa bentuk gelas hanya seperti tabung yang tidak memiliki tutup?

Tidak, setelah sepakat mendefinisikan bentuk gelas kita melakukan pengubahan bentuk dari gelas tersebut, bisa makin tinggi, atau makin kecil, atau memiliki gagang, toh ujungnya kita akan meminum air menggunakan wadah itu, bukan?

Langkah pertama tadi mendefinisikan gelas biasa dikenal dalam dunia filsafat dengan istilah semiotika, mencari sebuah tanda untuk bisa mendefinisikan sesuatu hal yang ujungnya untuk mempermudah kehidupan manusia itu sendiri. Dengan melakukan pengubahan tadi, kita telah melakukan dekonstruksi.

Bahasa yang jarang didengar oleh orang awam yang ternyata sering kita lakukan dalam kehidupan ini mempengaruhi berbagai aspek yang ada dalam kehidupan kita, tidak hanya dalam bidang gelas, bidang-bidang yang lain juga terpengaruh dari semiotika dan dekonstruksi. Contoh mudahnya, ketika dulu kita sebut seseorang yang norak dengan istilah alay ini sudah termasuk dekonstruksi, kok.

Begitu juga dalam dunia arsitektur, semiotika dan dekonstruksi ini berhasil mempengaruhinya bahkan seorang arsitek yang pertama kali menggunakan dekonstruksi ini kolaborasi dengan Jacques Derrida si pelopor dekonstruksi tokoh dalam era filsafat post-modern yaitu Peter Eisenman yang kemudian mempengaruhi gaya arsitek Bernard Tschumi karena menarik. Derrida turut berkontribusi dalam dunia arsitektur dengan mendefinisikan arsitektur yang menurutnya adalah pengalaman manusia dalam bentuk simbolik maupun secara fisik memberikan pengalaman ruang dan pengalaman hubungan manusia didalamnya[1].

Di balik keindahan dekonstruksi ini, terdapat hal yang harus diperhatikan bahwa jika semua orang melakukan dekonstruksi tanpa adanya kesepakatan definisi yang sama maka dekonstruksi ini akan menjadi suatu hal yang membingungkan baik untuk si arsitek ataupun manusia lainnya karena ketidaksamaan definisi yang ada.

Gereja Katedral Santo Basil,[2]

 

Moskow, Rusia. (upload.wikimedia.org)

Beberapa contoh penerapan dekonstruksi ini bisa dilihat melalui gambar yang dicantumkan, seperti yang ada pada gambar di atas ini yang mungkin secara normatif orang Indonesia akan menyebut itu sebuah masjid hanya karena adanya kubah-kubah yang bentuknya mirip masjid yang pada kenyataannya adalah bangunan tersebut adalah gereja.

Hagia Sophia,[3]

Istanbul, Turki. (upload.wikimedia.org)

Kebalikan dari gambar pertama, justru gambar kedua ini pada awalnya digunakan sebagai tempat ibadah kaum kristiani yang kemudian beralih fungsi sebanyak dua kali yaitu menjadi masjid dan akhirnya menjadi sebuah bangunan museum.

  

Null-Stern-Hotel,[4]

Gonten, Swiss. (img.huffingtonpost.com)

Akhir kata, dari hal ini kita mendapatkan pelajaran berharga bahwa kita tidak bisa mengartikan sesuatu hal hanya melalui sudut pandang kita sendiri, kita harus mencari tahu kenapa bentuk-bentuk tersebut ada dengan mengetahui sudut pandang si arsitek.

 

Kontributor: Hafidz Imaddudin

 

Sitasi:

[1] Vitale, Fransesco. The Ethics of Space: Jaques Derrida and the Architecture to  Come. Diakses dari http://isparchitecture.com/the-ethics-of-space-jaques-derrida-and-the-architecture-to-come-by-francesco-vitale/ [11 September 2017]

[2] St. Basil’s Cathedral. Diakses dari http://www.moscow.info/red-square/st-basils-cathedral.aspx [11 September 2017]

[3] Hagia Sophia. Diakses dari http://www.hagiasophia.com/ [12 September 2017]

[4] This Swiss Hotel Doesn’t Even Have a Roof, But It Comes With a Butler. Diakses dari http://huffp.st/H8snD2g [12 September 2017]

 

Daftar Pustaka:

Semiotika. Diakses dari   https://drive.google.com/file/d/0B2qI4gD8p4HqZEpMLUU0eXBXV0U/view?usp=drivesdk [15 September 2017]

Derrida, Jacques., dan Peter Eisenman. Chora L Works. 1967. New York: Monacelli Press

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.