Masjid – Masjid yang Tangguh

Mendapat julukan Kota Serambi Mekkah, Aceh, selain karena sejarahnya yang erat kaitannya dengan peradaban Islam, provinsi ini pun memiliki ribuan masjid dengan jarak hanya sepelemparan tangan. Kemana pun kaki melangkah selalu mudah menemukan masjid. Masjid sangat erat dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh. Menariknya masjid-masjid di Aceh ini beberapa diantaranya bahkan pernah bergelut dengan tsunami 2004. Bencana yang menelan ratusan ribu korban jiwa dan terjadi tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di 13 negara lainnya. Beberapa masjid tangguh itu adalah Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, dan Masjid Rahmatullah Lampuuk.

Menjadi salah satu saksi bisu perjalanan sejarah Aceh, Masjid Raya Baiturrahman kini menjadi salah satu ikon wisata Aceh karena arsitekturnya yang megah dan indah. Bila dilihat eksterior dan interiornya masjid ini sudah mengalami akulturasi akibat pengaruh Belanda. Sekitar 1873, saat Belanda menyatakan perang dengan Aceh, masjid ini sempat menjadi markas pertahanan rakyat Aceh. Pernah dibakar oleh Belanda hingga menyulut kemarahan rakyat Aceh, masjid ini pun dibangun kembali pada 1879. Hingga kini masjid telah mengalami renovasi sebanyak 5 kali dan saat ini tengah berlangsung proses renovasi dan perluasan. Nantinya masjid akan memiliki ruang parkir yang cukup luas di bagian basement, ruang istirahat bagi para pelancong, hingga pusat studi Islam.

Masjid Raya Baiturrahman (dok.Pribadi)

Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu masjid yang pernah bergelut dengan dahsyatnya tsunami Aceh 26 Desember 2004 silam. Saat itu air bah yang datang dengan kecepatan sekitar 1000 km/jam dari laut langsung menyapu segala hal yang dilewatinya. Masjid yang erat dengan kehidupan masyarakat Aceh, kala itu menjadi tempat pelarian semua orang. Hingga pada saat air datang beberapa orang mulai naik sampai ke atap masjid. Sembilan orang berhasil selamat berada di atap masjid termasuk seorang bayi. Menurut cerita mereka, ketinggian air kala itu bahkan hanya menyisakan atap masjid saja!

Kondisi masjid pasca tsunami 2004 (www.abc.net.au)

Mahasiswa arsitektur UGM melakukan penelitian faktual di Majid Raya Baiturrahman (dok. Pribadi)

 

Selain Masjid Raya Baiturrahman, ada masjid lain yang turut menjadi saksi sejarah, ialah Masjid Baiturrahim Ulee Lheue. Masjid ini berada di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa. Hanya berjarak 10m dari bibir Pantai Ulee Lheue. Sebelum tsunami, bibir pantai ini berada sejauh 1km ke utara dari bibir pantai saat ini. Tsunami memang melenyapkan segala hal, termasuk daratan yang tadinya ada menjadi hilang.

Masjid Raya Baiturrahim (dok. Pribadi)

 

Konstruksinya yang hanya terdiri dari tumpukan batu bata tanpa ada tambahan tulangan membuatnya sangat menakjubkan karena ia juga menjadi salah satu masjid yang tidak hancur akibat tsunami. Mulanya bangunan masjid ini adalah bangunan semipermanen dari material kayu, namun karena material tersebut bersifat organik sehingga mudah lapuk, kemudian pada 1922 dibangun ulang oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan konstruksi yang permanen.

Sebelum tsunami, bangunan masjid ini hanya memiliki satu bangunan inti saja yaitu masjid sebagai tempat melaksanakan ibadah. Kemudian akibat tsunami, beberapa bagian masjid ini rusak namun tidak sampai pada kerusakan di struktur utama masjid. Mendapat bantuan dana dari Kesultanan Turki yang digunakan untuk merenovasi dan membangun sebuah menara di samping masjid.

Satu lagi masjid yang cukup mengagumkan adalah Masjid Rahmatullah Lampuuk. Berada di area Pantai Lampuuk, masjid ini hanya berjarak 500m dari bibir pantai. Lampuuk adalah salah satu wilayah yang terkena dampak tsunami paling besar dan masjid inilah satu-satunya bangunan yang masih berdiri hingga setelah bencana.

 

Masjid Lampuuk (www.goodnewsfromindonesia.id)

 

Bagaimana bisa masjid dapat tetap berdiri kokoh bahkan setelah diterjang tsunami? Padahal seluruh bangunan yang berada di sekelilingnya pun tidak ada yang tersisa. Berdasarkan buku The Asian Tsunami (2010) oleh Sisiria Jayasuria dan Peter McCawley dan buku The Indian Ocean Tsunami (2007) oleh tim peneliti dari Jepang, perubahan ketinggian gelombang tsunami di samudera sebenarnya tidak terlalu terlihat, namun ketika sudah mencapai daratan, kecepatan gelombang berkurang tapi bertambah ketinggiannya. Gelombang akan semakin bertambah ketinggiannya ketika ia terhalang sesuatu yang lebih tinggi.

Ketika menerjang kota, air menyapu segala hal yang dilewatinya, menghancurkan material dan membuatnya bertumpuk jadi satu hingga meninggi dan bertambah kekuatannya. Tanah lapang yang berada di area sekitar masjid tidak menghalangi tumpukan material yang dibawa air untuk lewat sehingga diperkirakan hal ini dapat mengurangi kekuatannya.

Menurut beberapa sumber, salah satu faktor yang menyebabkan masjid-masjid di Aceh sangat kuat adalah karena struktur dan desainnya. Masjid ataupun bangunan ibadah lainnya di Aceh dibangun menggunakan swadana dari masyarakat sendiri, karena masjid merupakan bangunan yang agung, maka mereka berlomba-lomba utuk memberikan yang terbaik untuk pembangunan masjid. Dari situlah dipilih material dan metode yang paling baik sehingga didapat struktur bangunan yang kuat. Sedangkan dari segi desain, kekuatan masjid diperkirakan karena tidak adanya dinding-dinding penyekat yang dapat menghambat sirkulasi air, hanya kolom-kolom penopang masjid sehingga dari situlah terdapat celah sehingga air tidak tertahan.

 

Kontributor: Karunia Ayu

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.