Menilik Arsitektur di Bukit Matahari

Desa Bawomataluo merupakan bagian dari Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, tepatnya di Kecamatan Fanayama. Desa Bawomataluo berada diatas bukin dengan ketinggian 324 meter diatas permukaan laut. Hal pertama yang kita lihat saat sampai di Bawomataluo adalah gerbang desa berupa kurang lebih 77 anak tangga dengan kemiringan 45 derajat. Dalam bahasa nias, “bawomataluo” sendiri memiliki arti “bukit matahari.” Peserta KKA 2017 berkesempatan untuk mengunjungi desa ini.

Mahasiswa Arsitektur UGM di depan anak tangga masuk ke Desa Bawomataluo (dok. KKA UGM)

Bawomataluo menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO sejak tahun 2009 berkat pelestarian rumah-rumah tradisional Nias Omo Sebua, Omo Hada dan Omo Bale. Di sini terdapat 250 unit rumah adat yang masih dilestarikan dan saat ini sebagian besar rumah sudah direnovasi pada bagian penutup atap yang semula memakai bahan rumbia, namun sekarang beralih ke atap seng. Renovasi atap didasari oleh biaya perawatan yang mahal dan kurangnya bahan rumbia saat ini. Selain itu renovasi juga dilakukan untuk penambahan ruang, namun tidak mengubah desain secara keseluruhan.

Omo Hada dengan atap seng (dok. Pribadi)

 

Arsitektur di Bawomataluo

Dulu, di Bawomataluo sangat erat dengan hierarki kasta. Ada golongan bangsawan dan rakyat biasa. Hal tersebut terlihat dari rumah-rumah yang mereka miliki. Rumah terbesar, milik kepala adat desa disebut dengan Omo Sebua dalam bahasa Nias yang berarti rumah besar’. Omo sebua memiliki skala dua kali lipat dari omo hada namun memiliki desain yang yang hampir sama, namun omo Sebua memiliki lebih banyak ornamen. termasuk tulang rahang babi yang pernah menjadi jamuan pada ritual atau pesta yang pernah diadakan. Jumlah tulang babi yang dipajang juga menunjukkan seberapa tinggi kedudukan pemilik rumah di desa tersebut.

 

Tulang rahang babi yang ada di Omo Sebua (dok. Putri Maharani)

Omo hada secara keseluran memiliki desain yang sama dengan omo sebua. Perbedaannya terdapat pada dimensi bangunan, dimensi ruang dan ornamen-oenamen dalam rumah. omo hada yang ditata berderet memiliki pintu samping yang saling terhubung antara omo hada satu dengan yang lainnya. pintu tersebut berfungsi mempermudah dalam penyelamatan daat terjadi kebakaran.

Pintu yang menghubungkan antar rumah (dok. Putri Maharani)

 

Sedangkan, desain Omo Bale berbeda dari Omo Sebua dan Omo hada. Omo bale yang berarti rumah balai, berfungsi sebagai tempat berkumpulnya masyarakat dengan pemimpinnya untuk melakukan musyawarah atau menjalankan hukuman. Omo bale tidak memiliki dinding penutup. Denahnya persegi panjang dengan empat kolom besar ditengah dan batu-batu besar sebagai tempat duduk ketua adat atau bangsawan.

 

Interior Omo Bale (dok. Pribadi)

Mengapa Bawomataluo menjadi salah satu destinasi Kuliah Kerja Arsitektur?

Pada tahun 2005, tanggal 28 Maret, Nias diguncang gempa dengan skala 8,7 SR, termasuk desa Bawomataluo. Namun, disaat banyak bangunan modern roboh akibat gempa besar, rumah-rumah tradisional Nias masih bisa bertahan dengan kokoh. Hal yang menarik adalah, bagaimana bangunan kayu dengan teknologi konvensional dapat bertahan dari gempa besar? Itulah salah satu alasan KKA memilih Nias, Bawomataluo sebagai salah satu destinasi karena tim Kuliah Kerja Arsitektur UGM tahun ini memilih tema tentang mitigasi bencana.

Pada hari pertama di Bawomataluo, tim KKA melakukan pengamatan langsung ke lapangan dan menemukan fakta menarik. Nenek moyang masyarakat Nias memiliki pemikiran yang luar biasa mengenai desain rumah tradisional Nias yang tepat sesuai konteksnya. Dilihat dari site bawomataluo yang berada di dataran tinggi dan di daerah rawan gempa (patahan lempeng Nias-Mentawai) berakibat adanya angin kencang dan sering terjadi gempa. Namun, rumah tradisional Nias telah siap dengan keadaan tersebut.

Skema gaya yang terjadi pada saat gempa, gaya terputus di bagian badan rumah. (dok. Pribadi)

 

Skema gaya yang terjadi karena angin (dok. Pribadi)

 

Struktur pondasi panggung terbuat dari kayu utuh dengan diameter yang sangat besar. kayu-kayu yang digunakan bermacam-macam sesuai dengan fungsinya masing-masing. Kayu-kayu tersebut disusun vertikal sebagai struktur utama Omo Sebua. Dibagian lain kayu-kayu utuh disusun menyilang sebagai bracing untuk mengikat struktur lain agar lebih stabil. Beberapa kolom kayu pondasi memiliki dimensi lebih panjang hingga mencapai struktur dinding. Meskipun berfungsi sebagai pengaku dinding, kolom tersebut tidak terikat dengan struktur atap.

Struktur yang digunakan untuk atap (tinggi atap kurang lebih 16 meter) berupa kayu-kayu dengan dimensi kecil dan lebih pendek yang disusun vertikal tegak lurus dengan balok-balok besar horizontal dan ditopang oleh struktur dinding. Bentuk atap Omo Sebua dan Omo Hada sendiri aerodinamis sehingga dapat membelokkan angin dan mempercepat aliran air hujan di atap. Oleh karena itu, saat struktur atap diterpa angin, beban yang diterima tidak disalurkan secara langsung ke pondasi. Sebaliknya, saat terjadi gempa, struktur pondasi menahan beban getaran tanpa mengganggu struktur atap.

 

Proporsi struktur kaki rumah dengan skala manusia (dok. Pribadi)

Lompat batu

Pada ari terakhir di bawomataluo, warga menyajikan pertunjukan loncat batu yang telah menjadi budaya melekat mereka.  Pemain atraksi mengenakan pakaian adat mereka untuk melakukan atraksi lompat batu setinggi 2,8 meter. Pada awalnya, tradisi lompat batu telah ada sejak jaman leluhur mereka. Dulu, kaum lelaki di sana menggunakan lompat batu sebagai latihan perang agar dapat melewati dinding pembatas yang cukup tinggi. Sehingga, sering dikatakan pemuda yang belum bisa lompat batu sama halnya mereka belum dewasa dan  belum pantas mengikuti perang. Namun karena sekarang sudah tidak ada peperangan, atraksi lompat batu dilakukan untuk ritual dan sebagai simbol kebudayaan masyarakat Nias.

 

Hombo Batu/Lompat Batu. (dok. KKA UGM)

Pengaruh Pola Kawasan Bawomataluo

Tatanan Kawasan Bawomataluo

Tatanan kawasan Bawomataluo memiliki pengaruh terhadap neighborhood di desa Bawomataluo. Rumah-rumah berderet membentuk jalan luas yang berfungsi juga sebagai halaman. Ruang linear tersebut menjadi pusat kegiatan untuk berinteraksi antar warga. Setiap pagi, anak-anak disana berangkat ke sekolah bersamaan. Sebagian lain didampingi ibunya menuju sekolah dengan berjalan kaki. Saat siang hari, tidak banyak warga yang berada di luar rumah. Sebagian besar bekerja didaerah lain, dan sebagian kecil lain melakukan aktivitas di dalam rumah karena di sana mayoritas warga bekerja sebagai PNS, dan sebagian lain berwirausaha dalam bidang kesenian sepeti pahat patung kayu, kerajinan anyaman rotan dan souvenir perhiasan yang dijajakan kepada para wisatawan. Di sore hari, anak-anak bawomataluo sudah pulang sekolah. Mereka bermain bersama anak-anak lain di halaman rumah yang sekaligus sebagai jalan tersebut. Ibu-ibu dan bapak-bapak banyak menghabiskan waktu bersama tetangga. Mereka berkumpul, saling bercerita dan berinteraksi satu sama lain.

Wisatawan yang ingin menginap beberapa hari di desa ini akan difasilitasi oleh warga. Biasanya mereka menyediakan rumah salah satu adat warga sebagai tempat menginap sehingga wisatawan dapat merasakan suasana tinggal di rumah kayu tradisional tersebut.

 

 

Tips dan Trik

Wisatawan yang ingin datang ke kabupaten Nias Selatan khususnya Bawomataluo, lebih baik didampingi oleh tourguide yang mengenal medan dengan baik, sehingga dapat menentukan destinasi dan kendaraan yang tepat sesuai medan di sana.

 

Daftar Pustaka:

Darma, S. Tradisi Lompat Batu di Nias. Diakses dari  http://indonesiaindonesia.com/f/104197-tradisi-lompat-batu-pulau-nias-indonesia/ [24 Oktober 2017]

Halawa, Ade.Diakses dari http://www.tanoniha.net/2017/02/bawomataluo.html [24 Oktober 2017]

Alfari, Shabrina. Diakses dari https://www.arsitag.com/blog/omo-sebua-dan-omo-hada-rumah-tradisional-nias-yang-tahan-gempa/ [24 Oktober 2017]

https://ceritapelosokindonesia.files.wordpress.com/2015/06/site-omo.jpg [23 Oktober 2017]

http://2.bp.blogspot.com/-6dBoq8Kc3sA/UDsXyc4vNxI/AAAAAAAAAEM/unzogIoySXY/s1600/100_5807.JPG[23 Oktober 2017]

https://id.wikipedia.org/wiki/Baw%C3%B6mataluo

http://www.antaranews.com/print/156207/iagi-gempa-sumbar-di-jalur-patahan-nias-mentawai

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.